Sang Debt Collector

Debt collector, itulah pekerjaanku. Karena ijazahku hanya smp, jelas sulit mencari pekerjaan yang mentereng, seperti karyawan toko atau buruh pabrik seperti kebanyakan orang di desaku. Karena bosan hidup di desa, maka aku pun memutuskan pindah ke kota, dengan kata lain aku merantau, tetapi merantau tanpa pengalaman dan ketampilan apapun, kecuali badan yang kekar dan tato di lenganku yang selalu kusembuyikan di bawah jaket atau baju lengan panjang.
Pada walnya di kota aku ditampung oleh pak dhe, tetanggau di kampong yang merantau di kota. Namanya bukan pak dhe sebenarnya, tapi warsito, tetapi semenjak masih di desa semua orang memanggilnya pak dhe. Ya sudah, akupun turut memanggilnya pak dhe. Di sebuah rumah kecil berwarna biru di gang mawar. Pak dhe bekerja jualan pakaian di pasar bersama istrinya.
“heri, pokoknya kamu ditinggal di sini saja sampai mendapat pekerjaan dan tempat tinggal yang layak” begitu dulu kata pak dhe ketika aku datang.
Setelah sekian mingggu aku di rumah pak dhe, pekerjaan yang kuharapkan belum juga dapat. Aku malu karena aku menjadi parasit di rumah pak dhe. Kalau malam tanpa sepengetahuan pak dhe akupun sering keluar keluyuran tanpa arah yang jelas.
Dan ituah awal perkenalnaku dengan preman pertama kali. Dilihat sepintas tubuh mereka jauh lebuh kecil dariku, tetapi kuat sekali mereka minum, dan tatonyapun jauh lebih banyak dariku. Dan dari merekalah aku akhirnya mendapatkan pekerjaan yang hanya mengandalkan otot, tanpa sepengatahuan pak dhe tentunya.
Ternyata pekerjaan ini sangat mudah sekali, hanya modal tampang seram dan pintar bentak-bentak orang sampai takut, maka pekerjaan beres, dan bayarannya juga gedhe. Semenjak aku kerja, aku tidak tinggal lagi bersama pak dhe. Sambil minum bir, aku menangis memikirkan orang yang kutagih. Tak jarang bogem mentah pun melayang, agar pekerjaanku berhasil. Meski sebenarnya aku juga tidak tega, tapi bagaimana lagi, tugas gagal, maka tidak dibayar, dan tidak bisa makan.

Pagi itu, aku sebenarnya malas berangkat “narik” uang ke para penghutang. Bos kami, seorang rentenir yang kejam memaksa franky, temanku berangkat karena anak-anak yang lain lagi pada libur, dan franky pun mengajakku untuk menemaninya “narik”. Franky pun berangkat bersamaku dengan modal secarik kertas berisi alamat.
Aku khawatir, apa yang harus kulakukan. Ternyata franky membawaku ke sebuah rumah kecil berwarna biru di gang mawar, persis dimana aku dulu pernah menumpang. badanku bergetar, aku bingung. Begitu pintu dibuka oleh pemilik rumah, aku langsung lari, lari sekencang mungkin. Terdengar sura-suara orang yang memanggilku di belakang. Entah tidak tahu kemana aku berlari, tapi aku harus berlari sampai tidak terdengar suara-suara itu lagi.

0 Response to "Sang Debt Collector"

Post a Comment

Mohon isi komentar HANYA terkait dengan artikel yang di bahas di halaman ini. Di larang memberikan link aktif (kami akan menghapusnya dan melaporkan sebagai spam jika anda melanggar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel