SEKS, ANAK-ANAK DAN TELEVISI


Boleh dibilang acara-acara televisi sekarang ini sebagian besar bertentangan dengan norma-norma kesusilaan masyarakat, seperti percintaan di kalangan remaja, seks bebas, gosip, acara reality yang penuh dengan pembaca acara yang berpakaian seksi dan seronok, dan pengajaran kekerasan dan tindakan kriminal. Di era reformasi sekarang ini, di mana kebebasan pers boleh dibilang sudah sampai tahap keblabasan, maka acara-acara televisi swasta yang didominasi percintaan di kalangan remaja, seks bebas, gosip, acara musik yang penuh dengan hura-hura dan pakaian seronok, dan pengajaran kekerasan dan tindakan kriminal dapat ditemukan dengan mudah.
Meskipun sekarang ini jumlah stasiun televisi swasta sangat banyak, akan tetapi sebagian besar dari mereka merupakan stasiun televisi yang dipenuhi dengan acara-acara yang tidak bermutu, bahkan menyebabkan demoralisasi bangsa, terutama generasi muda dan anak-anak. Pada jam-jam prime time, ketika sebagian besar keluarga-keluarga di Indonesia menghabiskan waktu untuk beristirahat sambil menikmati siaran televisi, justru waktu yang strategis semacam itu dimanfaatkan oleh pihak televisi untuk menayangkan acara-acara sinetron yang tidak mendidik, yang mengajarkan tindakan kriminal dan kekerasan dalam rumah tangga. Jangan heran apabila anak-anak SD sekarang ini sudah mahir mengucapkan kata-kata kasar dan bersikap sok dewasa, karena hampir setiap hari mereka dicekoki dengan kata-kata kasar dan adegan-adegan yang tidak mendidik di televisi. Para remaja bahkan anak-anak  pun terbiasa dengan gaya hidup boros, manja, hedonis, bermewah-mewahan, dan menyukai kehidupan yang cenderung bebas dan longgar karena itulah yang mereka nikmati dari layar kaca.
Hampir tidak ada acara musik di televisi yang tidak mengajarkan gaya hidup boros, hedonis, bermewah-mewahan, dan menyukai kehidupan yang cenderung bebas. Bahkan ironisnya lagi, acara-acara musik justru ditayangkan secara langsung pada pagi hingga siang hari setiap hari, yang mana pada jam-jam tersebut, para remaja harusnya sedang berada di sekolah untuk belajar demi masa depan mereka, bukan justru berjingkrak-jingkrak smabil mendengarkan acara musik yang tidak bermutu dan menumpulkan intuisi dan kemampuan olah pikir mereka.
Generasi muda macam apa yang akan dihasilkan dari tontonan yang tidak bermutu seperti yang sedang ditayangkan oleh televisi-televisi swasta di Indonesia sekarang ini. Apakah stasiun televisi mau bertanggung jawab akan kehancuran moral dan masa depan generasi muda Indonesia. Pihak stasiun-stasiun televisi swasta hanya mau mengejar rating acara mereka supaya tetap tinggi dengan banyaknya pentonton, sehingga semakin banyak dan mahal iklan yang masuk dan akhirnya keuntungan mereka pun semakin besar. Akan tetapi sebagai tumbal dari kapitalisasi yang tidak bertanggungjawab dari pihak televisi, masa depan bangsa Indonesia sedang dipertaruhkan.
Memang masyarakat selaku konsumen dari program televisi juga memiliki hak untuk memilih dan menikmati acara, akan tetapi adalah kewajiban bagi pihak stasiun televisi untuk menyediakan acara televisi yang mengedukasi masyarakat. Jangan sampai, dengan alasan selera konsumen, pihak stasiun televisi menyiarkan acara-acara yang tidak bermutu, terutama di prime time. Memang televisi mempunyai hak untuk menyiarkan program mereka, akan tetapi mereka juga memiliki pertanggung jawaban moral dan sosial (corporate social and morale responsibily) kepada masyarakat. Seharusnya pihak televisi bisa berkompromi dalam memenuhi selera masyarakat dengan sekaligus mengarahkan masyarakat dengan menyediakan acara yang bermutu dan mendidik.

Alangkah baiknya jika stasiun televisi memperbanyak acara yang memperluas wawasan dan 
pengetahuan masyarakat, mengajarkan kesederhanaan, dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan dan relijiusitas. Anggota masyarakat seharusnya juga selektif dalam menikmati acara televisi, terlebih lagi ketika sedang bersama dengan anak-anak. Jangan para orang tua justru mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menonton acara-acara yang jorok, cabul, mengajarkan hidup boros, dan memperlihatkan  kekerasan. Para orang tua harus mengarahkan dan memberikan pemahaman kepada anak-anak mereka, agar mereka bisa menilai mana acara yang baik ditonton dan mana yang tidak layak ditonton. Akan lebih baik lagi jika para orang tua memberikan aturan yang tegas kepada anak-anak dalam hal menonton televisi. Jangan sampai anak-anak menghabiskan waktu, terutama ketika hari libur, hanya untuk menonton televisi, karena hal tersebut akan menumpulkan bakat dan potensi mereka.
Pemerintah dan anggota masyarakat harus aktif mengedukasi remaja dan anak-anak, serta meminta dengan tegas stasiun teleivisi agar jangan sampai ada acara-acara yang tidak mendidik dan melanggar norma-norma sosial sampai bisa lolos dan tayang di televisi, terlebih lagi di prime time. Alangkah indahnya jika pemerintah, pihak stasiun televisi, dan masyarakat sama-sama cerdas sehingga bisa saling bekerjasama dan pengertian sehingga generasi muda tidak dikorbankan moral dan masa depannya. Semoga tragedi kejahatan seks ini segera berakhir Indonesia, dan bukan bagian dari fenomena gunung es.

0 Response to "SEKS, ANAK-ANAK DAN TELEVISI"

Post a Comment

Mohon isi komentar HANYA terkait dengan artikel yang di bahas di halaman ini. Di larang memberikan link aktif (kami akan menghapusnya dan melaporkan sebagai spam jika anda melanggar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel