Khouf Dan Roja' Dalam Ibadah

Apakah Ibadah keagamaan seharusnya dilakukan karena cinta terhadap Tuhan dan Agama atau murni karena takut masuk Neraka?
Menurut saya dua duanya. Karena ibadah adalah perintah Tuhan dan Tuhan juga menjanjikan surga dan neraka bagi manusia. Jadi tidak salah jika hamba berdoa kepada Tuhan agar dimasukkan ke surga.

Ada prinsip "khouf" dan "roja'".
Khouf adalah rasa takut, jika ibadah kita tidak diterima Tuhan. Agar kita beribadah dengan hati hati, tidak membuat buat (heresy) dan niat yang ikhlas
Roja' adalah rasa penuh harap kepada Tuhan. Semoga semoga amal abadah kita diterima dan Tuhan berkenan dengan ibadah kita sehingga dengan rahmatNya memasukkan kita ke surga, meski tahu bahwa amalan kita bahkan tidak akan pernah cukup untuk memasukkan kita ke surga. Sehingga kita semakin rajin beribadah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya penggerak hati menuju Allah ‘azza wa jalla ada tiga: Al-Mahabbah (cinta), Al-Khauf (takut) dan Ar-Rajaa’ (harap). Yang terkuat di antara ketiganya adalah mahabbah. Sebab rasa cinta itulah yang menjadi tujuan sebenarnya. Hal itu dikarenakan kecintaan adalah sesuatu yang diharapkan terus ada ketika di dunia maupun di akhirat. Berbeda dengan takut. Rasa takut itu nanti akan lenyap di akhirat (bagi orang yang masuk surga, pent). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut dan sedih yang akan menyertai mereka.” (QS. Yunus: 62) Sedangkan rasa takut yang diharapkan adalah yang bisa menahan dan mencegah supaya (hamba) tidak melenceng dari jalan kebenaran. Adapun rasa cinta, maka itulah faktor yang akan menjaga diri seorang hamba untuk tetap berjalan menuju sosok yang dicintai-Nya. Langkahnya untuk terus maju meniti jalan itu tergantung pada kuat-lemahnya rasa cinta. Adanya rasa takut akan membantunya untuk tidak keluar dari jalan menuju sosok yang dicintainya, dan rasa harap akan menjadi pemacu perjalanannya. Ini semua merupakan kaidah yang sangat agung. Setiap hamba wajib memperahtikan hal itu…” (Majmu’ Fatawa,1/95-96, dinukil dari Hushulul Ma’muul, hal. 82-83). Syaikh Zaid bin Hadi berkata: “Khouf dan roja’ saling beriringan. Satu sama lain mesti berjalan beriringan sehingga seorang hamba berada dalam keadaan takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan khawatir tertimpa siksa-Nya serta mengharapkan curahan rahmat-Nya…” (Taisirul Wushul, hal. 136. lihat juga Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 60)



 https://muslim.or.id/441-roja-khouf-1.html

0 Response to "Khouf Dan Roja' Dalam Ibadah"

Post a Comment

Mohon isi komentar HANYA terkait dengan artikel yang di bahas di halaman ini. Di larang memberikan link aktif (kami akan menghapusnya dan melaporkan sebagai spam jika anda melanggar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel