No Mager & Gabut; Edisi Serunya Susur Pantai Selatan, Dadapan Hingga Wedi Ombo




Hidup itu adaalah petualangan. Oleh karena itu kita perlu berpetualang di alam luar, biar tidak mager and gabut di rumah melulu. Pada Sabtu 6 Juli 2019, saya dan beberapa teman mengadakan acara susur pantai di pantai selatan, daerah Gunungkidul, Jogja. Kami berangkat dari Solo sekitar sebelum Maghrib dan sholat jamak Qasar Maghrib dan Isya di perjalanan. Sekitar jam 10 kami sampai di atas parkiran Pantai Wedi Ombo, tepatnya di Masjid Ar Royyan. Kami beristirahat sampai sekitar jam 1 pagi untuk menyimpan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan, mengingat jalur yang kami tempuh cukup jauh, yaitu dari atas Pantai Wedi Ombo, menuruni bukit ke arah tenggara. 
jalur susur pantai
Pantai pertama yang akan kami tuju adalah Pantai Sedahan. Tapi karena kondisi yang cukup gelap, karena kami mulai berjalan sekitar jam 1.30 yang mana saat itu kondisi cukup gelap, kami pun tersasar sampai ke Pantai Dadapan, yang lebih ke timur lagi. Untungnya Pantai ini sepi karena hanya kami yang malam itu berkunjung ke pantai ini. Pada jam 3 pagi kami sampi ke pantai yang diiringi ombak yang cukup tinggi. Karena cuaca cukup dingin, kamipun segera mengumpulkan kayu-kayu kering dan plastik yang ada untuk membuat api unggun untuk menghangatkan badan.  Tidak lama api yang cukup besar untuk menghangatkan kami ber 12 pun berkobar-kobar di hadapan kami. Sambil menunggu waktu subuh, kami pun ngobrol dan makan berbagai cemilan yang kami bawa hingga waktu subuh tiba. Dengan air laut kamipun wudhu, meski agak agak lengket juga jadinya. Kami juga membuat mie dan kopi untuk sarapan di pagi itu. Karena kami memang sengaja tidak membawa tenda, maka kamipun hanya beralaskan matras saja.
api unggu untuk menghangatkan badan memasak sarap
Setelah selesai sarapan pagi, kami pun mulai berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan kami. Tidak lupa kami mematikan api unggun dengan pasir, untuk mencegah terjadinya kebakaran. Sampah plastik bekas kami makan mie pun kami bakar di perapian juga. Tidak lupa sebelum meninggalkan pantai menikmati pemandangan di pantai yang kecil mungil ini.
pantai dadapan di pagi hari
Perjalanan selanjutnya pun kami teruskan, yaitu menuju pantai selanjutnya, yaitu menuju Pantai Sedahan yang menjadi tujuan kami sebenarnya. Antara Pantai Dadapan dan Pantai Sedahan ini sebenarnya hanya dipisahkan oleh sebuah gumuk atau bukit saja, tetapi cukup melelahkan juga untuk melewatinya. 
jalan tebing dadapan
Meskipun bukitnya kecil, tetapi jalurnya cukup terjal dan curam sehingga kami deg-degan ketika melewatinya, karena kami harus berhati-hati dalam melewatinya, karena bawahnya adalah deburan ombak pantai selatan Jawa. Untungnya kami dihibur dengan pemandangan tebing dan laut yang indah luar biasa biru jernih dan udara yang masih sejuk di masa pagi hari itu.
tebing dadapan

Begitu kami sampai di puncak bukit, Pantai Sedahan pun terihat jelas dengan puluhan tenda warna warni berjajar di tempi pantai. Puluhan anak muda yang menurut perkiraan kami adalah para mahasiswa asyik bermain di pantai, main bola, memasak hingga poto-poto selfie maupun wefie. Ada untungnya juga kami menginap di Pantai Dadapan, karena kami tidak bercampur dengan mahasiswa yang pastinya ramai dan berisiknya minta ampun.
pantai sedahan gunungkidul
Begitu kami sampai di Pantai Sedahan, maka kamipun langsung meneruskan perjalanan tanpa beristirahat terlebih dahulu untuk menuju pantai selanjutnya, yaitu pantai Greweng.  Seperti sebelumnya, kami harus mendaki bukit lagi yang cukup curum, hanya saja tidak langsung diatas laut. Perjalanan kamipun dinaungi oleh rimbunnya jajaran pohon pandan laut yang besar besar dan ada berduri pula, sehingga kami harus berhati-hati ketika melewatinya.
pandan laut
Setelah selesai melewati bukit yang penuh pohon pandan laut, kamipun sampai ke pantai ke tiga, yaitu Pantai Greweng. Sama seperti di Pantai Sedahan, Pantai greweng ini juga penuh dengan tenda warna warni yang penghuninya adalah para mahasiswa yang menghabiskan masa libur. Di Pantai Greweng ini ada mata air yang membentuk sungai pendek yang langsung mengarah ke laut. Sayang saat kami lewat airnya hanya ada sedikit saja, mungkin karena faktor musim kemarau.
pantai greweng
Dari Pantai Greweng, kami langsung menaiki bukit untuk menuju ke atas untuk menuju pantai selanjutnya, yaitu Pantai Jungwok. Dalam perjalanan kami melihat Pulau Kalong dan kami berusaha mendekatinya karena melihat ada jembatan kayu. Sayangnya untuk melewatinya harus membayar 25 ribu rupiah per orang sehingga kami pun tidak jadi karena cukup mahal untuk hanya memasuki sebuah pulau kecil tak berpenghuni.
pulau kalong
Dari samping Pulau kalong, kami meneruskan perjalanan dengan agak menjauhi laut dan menaiki bukit yang lebih tinggi. Di sini kami bertemu dengan beberapa bangunan gubuk atau rumah kecil yang dilengkapi dengan panel surya milik warga yang berkebun dan memelihara sapi. Saya sendiri heran karena selama perjalanan saya hitung lebih dari 20 sapi yang ada di kandang di kebun warga yang sangat jauh letaknya dari permukiman atau kampung terdekat.
panel surya
sapi di kebun warga
sapi di kebun warga
Selama perjalanan dari Pantai Greweng menuju Pantai Jungwok, jalannya cukup nyaman dan enak, hanya saja jaraknya cukup jauh sehingga perjalanannya pun cukup lama. Terlebih lagi perjalanan ini boleh dibilang agak memutar sebenarnya, karena meski ada jalur lain yang lebih dekat, tapi kami memilih jalur yang lebih aman.

jalan ke jungwok
Sesampainya di Pantai Jungwok ( kok mirip nama Korea ya nama pantainya), kami pun beristirahat di pinggir pantai, di bawah tebing batu sambil ngadem, karena memang suhu sudah mulai tinggi, mengikuti matahari yang yang juga sudah tinggi juga. Ombaknya juga semakin tinggi dan kuat di pantai ini. Di Pantao Jungwok ini juga ada pengunjung yang berkemah, hanya tidak sebanyak di Pantai Sedahan dan Greweng, tetapi pengujung keluarga yang datang dengan kendaraan sangat banyak jumlahnya.
ombak jungwok
Pantai Jungwok yang cerah dan indah
Perjalanan terakhir dari Pantai Jungwok hingga ke pantai terakhir, yaitu Pantai Wedi Ombo adalah perjalanan yang paling berat. Jujur saja, pagi hari kami hanya sarapan mie instan dan digunakan energinya untuk menempuh perjalanan sejauh dan sebarat itu, saya sampai mencari potongan kayu untuk dijadikan tongkat untuk menopang badan saya yang gemuk ini. Dan kebetulan juga perjalanan melintasi bukit pemisah antara Jungwok hingga Wedi Ombo cukup jauh dan cuaca yang sangat panas. Saking lemesnya saya hingga saya tidak mengambil foto sama sekali di perjalanan ini. Hingga akhirnya kamipun sampai disebuah gubuk kecil dan beristirahat. Ternyata gubug tersebut terletak di atas Pantai Wedi Ombo dan kami bisa melihatnya dari sini. Legalah hati saya karena akhirnya tujuan terakhir kami sudah ada di depan mata.
wedi ombo
Segera setelah beristirahat sejenak kamipun bersemangat menuruni tebing menuju ke Pantai Wedi Ombo. Mungkin saat itu semangat kami bisa disebut dengan semangat 45, karena meksi capek, dengan adrenalin rush kami pun tetapi mengayunkan kaki kami ke depan. Dan akhrinya kami pun sampai di pantai dan segera mencari tempat yang teduh di bawah pohon yang cukup rindah. Kami pun segera tiduran di pantai dan tidak lupa melepas sepatu dan membasahi kaki dengan air laut, hingga rasa segarnya menjalar di telapak kaki kami. Saya sendiri merasa terlalu lelah untuk bermain-main dengan air laut.
wedi ombo
Setelah cukup beristirahat sembari menikmati udara laut selatat, kami pun segera naik kembali ke parkiran yang ternyata jalannya cukup menanjak. Dan sekali lagi saya harus memaksa adrenalin saya agar kuat sampai parkiran Pantai Wedi Ombo tempat mobil berada. Begitu sampai di parkiran, kamipun langsung mandi dan menuju wraung terdekat, minum dan ngemil sisa snack kami, sambil meluruskan kaki dan menikmati pemandangan laut dari kejauhan.

Akhirnya sekitar jam 10 pagi kami semua sudah selesai membersihkan diri. Lucunya salah seornag dinatara teman kami malah "hilang" gara-gara salah beristirahat di tempat parkir, karena melihta mobil yang mirip dengan yang kami gunakan. Akhirnya setelah sadar baru mencari tempat parkir yang sebenarnya kami gunakan. Perjalanan susur pantai kali ini meski melelahkan, tetapi banyak memberikan banyak pengalaman dan pengajaran. Semoga lain kali kami bisa mengulanginya lagi.

0 Response to "No Mager & Gabut; Edisi Serunya Susur Pantai Selatan, Dadapan Hingga Wedi Ombo"

Post a Comment

Mohon isi komentar HANYA terkait dengan artikel yang di bahas di halaman ini. Di larang memberikan link aktif (kami akan menghapusnya dan melaporkan sebagai spam jika anda melanggar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel