Perbedaan Resiko Antara Menjadi Karyawan dan Pengusaha

Saya punya beberapa teman yang gila kerja. Maksud dari ungkapan gila kerja adalah dalam kerja sangat fokus, loyalitasnya tinggi, tidak segan untuk berkorban waktu dan tenaga melebihi karyawan lain, demi kemajuan perusahaan tempat kerjanya.
Ada dari orang yang gila kerja ternyata memiliki alasan bermacam macam, ada yang belum nikah aka single sehingga menyibukkan diri dengan pekerjaan, ada yang memang pekerjaannya sesuai dengan passionnya sehingga bekerja 12 jam pun terasa 3 jam dan ada yang karena terpaksa, misal beban kerja tinggi atau nglembur cari tambahan.
Lantas kenapa mereka tidak membuka usaha sendiri saja? Bukankah dengan begitu penghasilan mereka akan lebih besar.
Tidak semudah itu , Ferguso, eh Bambang.
Membuka usaha sendiri kelihatannya keren, tetapi ternyata tidak semudah itu juga Bambang.  Ketika membuka usaha sendiri, artinya itu menanggung sendiri banyak resiko, karena usaha itu tidak hanya menjual barang dan jasa, tapi ada menejemen, stocking barang, networking, negoisasi, modal, dan lain-lain. Sedang menjadi karyawan itu enak, perusahaan rugi juga saja tetep digaji, tidak menanggung resiko.
Contoh yang paling simple adalah profesi sales. Meskipun berhasil menjual banyak barang sekalipun, tetapi saja belum tentu cocok untuk menjadi pengusaha atau membuka usaha sendiri sesuai dnegan bidang atau barang yang dijalaninya dengan baik. Sehingga memang wajar jika tidak smeua orang bisa menjadi pengusaha, ada orang yang memang yang memang lebih cocok menjadi karyawan saja. meskipun dmeikian, memang jujur saja jumlah pengusaha, mulai dari level UKM di negara kita maish sangat kurang.

0 Response to "Perbedaan Resiko Antara Menjadi Karyawan dan Pengusaha"

Post a Comment

Mohon isi komentar HANYA terkait dengan artikel yang di bahas di halaman ini. Di larang memberikan link aktif (kami akan menghapusnya dan melaporkan sebagai spam jika anda melanggar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel